Presiden Prabowo: Jangan Kagum kepada Bangsa yang Kayanya dari Merampas Kekayaan Bangsa Lain

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidatonya pada Rapat Paripurna DPR RI di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, pada Rabu, 20 Mei 2026. Foto: BPMI Setpres/Kris

JAKARTA, SUARASOLO.id

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyatakan agar jangan terlalu kagum kepada bangsa lain yang kaya dari merampas kekayaan bangsa lain.

“Hendaknya, janganlah kita terlalu kagum kepada bangsa-bangsa yang kayanya dari merampas kekayaan bangsa-bangsa lain. Janganlah kita rendah diri. Janganlah kita selalu mengagumi apa yang mereka ajarkan kepada kita, padahal mereka sendiri tidak menjalankan apa yang mereka ajarkan kepada kita,”  kata Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna DPR RI Ke-19 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026 dalam rangka Penyampaian Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN 2027, di Ruang Rapat Paripurna, Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD RI, Kota Administrasi Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta, Rabu (20/05/2026).

Prabowo melanjutkan, bukan berarti ia mengajak membenci siapapun.



“Saya tidak mengajak kita untuk membenci siapapun. Saya tidak mengajak kita membenci bangsa-bangsa lain, tidak. Bahkan, saya mengajak kita belajar, tapi juga kita harus belajar dari sejarah. Ada suatu adagium, bahwa mereka yang tidak belajar dari sejarah akan dihukum oleh sejarah, akan mengulangi sejarah kelam yang sama yang dialami oleh nenek moyang mereka. Ini adagium yang terjadi di banyak negara,” ucap Prabowo.

Berbicara tentang pengelolaan ekonomi negara, Prabowo mengungkapkan sesungguhnya telah dirumuskan oleh para pendiri-pendiri bangsa kita.

“Para pendiri-pendiri bangsa kita bukan orang-orang yang lugu atau naif. Mereka merasakan penjajahan. Mereka merasakan dijajah. Mereka merasakan dihina. Mereka merasakan diperbudak. Mereka merasakan dirampas kehormatan, dirampas harga diri, dirampas dignity bangsa Indonesia. Mereka menyaksikan dan merasakan dihilangkan segala kehormatan, segala kepercayaan diri kepada bangsa, kepada budaya, kepada sejarah kita. Mereka merasakan apa artinya imperialisme itu. Mereka merasakan bahwa bangsa Indonesia ditempatkan derajatnya di bawah anjing. Mereka melihat dan merasakan kekayaan Nusantara ratusan tahun diambil oleh penjajah-penjajah kita untuk memperkaya mereka,” tutur Prabowo.

Leksono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *